YMSI BERDUKA

YMSI BERDUKA

Our deep condolences.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Yayasan Multipel Sklerosis Indonesia (YMSI) mengucapkan turut bela sungkawa atas wafatnya Rain Sultan Al Hadiid, pada hari Minggu, tanggal 17 November 2019 di Surabaya.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan menerima segala amal ibadahnya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Aamiin.

======
Rain Sultan Al Hadiid, Pejuang MS dan mahasiswa ITS berprestasi.

Artikel di bawah ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: “Jembatan Ombak” Kreasi Mahasiswa ITS, https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/14/23101831/jembatan-ombak-kreasi-mahasiswa-its?utm_source=Facebook&fbclid=IwAR1OG20EvuVMfz-VtrNxah9O25gHJjxgEtrwkdE8HWHM0PlYkQ1GaVy4LB8.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

KOMPAS.com – Mendesain jembatan khusus pejalan kaki memberikan tantangan tersendiri. Pasalnya, disamping faktor estetis, rancangan juga harus mempertimbangkan ketepatan dan kekokohan jembatan.

Tantangan inilah yang berusaha dipecahkan 3 mahasiswa dari Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh November ( ITS). Atas idenya, tim ITS berhasil menyabet first runner up dalam kompetisi “National Bridge Competition” di Universitas Gadjah Mada (28/10/2018).

Kompetisi rancang bangun jembatan berskala nasional tersebut menantang peserta mendesain jembatan inovatif sekaligus estetis untuk diterapkan di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.

Tim ITS beranggotakan Rain Sultan Al Hadiid, Nugraha Alfanda Wildan serta Cita Nanda Kusuma mencetuskan ide menggunakan desain ornamen ombak sebagai tema jembatan.

Rain Sultan Al Hadiid menjelaskan, desain ombak sengaja dipilih karena menunjukkan ciri khas geografis dari Kabupaten Kulon Progo. Menurutnya, untuk menonjolkan ikon dari suatu daerah tidak harus diangkat dari kebudayaan setempat, sebagaimana yang dilakukan banyak tim lain.

“Kebanyakan tim memilih ornamen batik sebagai ikon Kulon Progo yang ingin diangkat, jadinya malah terlihat mainstream karena banyak yang pakai,” jelas Sultan seperti dikutip dari laman resmi ITS (14/1/2019).

Dalam desain jembatannya, lanjut Sultan, timnya menyertakan elemen pemecah gelombang berupa struktur beton berkaki empat atau tetrapod.

Diakuinya, struktur beton ini memang lebih banyak digunakan pada jembatan pejalan kaki dibandingkan untuk jembatan penyebrangan kendaraan bermotor.

“Sesuai dengan fungsinya, rancangan ini juga dilengkapi dengan pengaman berupa pegangan di sepanjang jembatan,” ujar mahasiswa angkatan 2017 ini.

Disamping unggul dari segi desain, jembatan karya tim Gareng 86 ini juga unggul dalam aspek efisiensi segmen. Sultan mengaku timnya hanya memerlukan 4 buah segmen untuk merakit jembatannya.

Jumlah ini sekaligus tercatat sebagai penggunaan segmen paling sedikit diantara tim lain. Adapun waktu yang diperlukan untuk merampungkan rakitan jembatannya ini juga terbilang singkat, hanya sekitar dua setengah jam saja.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.