MULTIPEL SKLEROSIS DALAM SEJUMLAH FILM

Penulis: Triyoga Dharmautami 1)Penulis adalah penyintas MS, diagnosis RRMS (Relapsing Remitting Multiple Sclerosis) di Auckland Hospital, Selandia Baru,10 November 2016.

Kita mengenal Pepeng yang bernama lengkap Ferrasta Soebardi sebagai seorang publik figur yang juga penyintas Multiple Sclerosis atau Multipel Sklerosis (MS). Pepeng semasa hidupnya kerap muncul sebagai pemandu acara di layar gelas maupun sejumlah film layar lebar. Sebagai seorang penyintas MS, beliau masih tampak ceria dan bersemangat bahkan berhasil menyelesaikan studi master antropologi di Universitas Indonesia. Seiring perjalanan waktu, Pepeng berpulang ke rahmatullah pada tahun 2015.

Dunia MS sebenarnya ada di dunia sekitar kita tetapi terkadang tak tecermati. MS sangat identik dengan istilah invisible disability, disabilitas yang tak kasat mata. Rasa sakit itu ada, namun tak jarang sang penyintas tampak sehat layaknya orang kebanyakan. Terkadang, ada yang menggunakan alat bantu untuk berjalan seperti tongkat, walker ataupun kursi roda. Tiap penyintas MS dapat memiliki kesulitan yang berbeda. Hasil pemeriksaan seputar luka parutan di sekitar otak juga dapat berbeda letak dan jumlahnya, juga akibat yang menyertainya.

Pingin tahu seputar MS? Website YMSI juga menyediakan sejumlah artikel tentang MS. Kehidupan seputar MS juga sudah terekam di dunia layar gelas atau layar lebar. Tulisan kali berbagi sejumlah film dari manca negara yang terkait dengan MS. Semoga masih sabar menanti tulisan lanjutan tentang film yang diproduksi di dalam negeri. Diharapkan, baik tulisan kali ini dan berikutnya bermanfaat menambah kepekaan serta mendorong fasilitas yang dibutuhkan para penyintas MS tanah air pada khususnya.

Film bertajuk “When I Walk” (2013). Sebuah film dokumenter yang diproduseri, disutradarai, dan ditulis sendiri oleh Jason DaSilva

Sejumlah penyintas MS ada yang masih aktif berprestasi, tak menyerah tak berputus asa menerima diagnosis dan kondisi tubuh yang menjadi terbatas. Melalui film, kita bisa menyaksikan gigihnya semangat para penyintas MS. Film bertajuk When I Walk (2013), misalkan, sebuah film dokumenter yang diproduseri, disutradarai dan ditulis sendiri oleh Jason DaSilva yang terdiagnosis MS saat berumur 25 tahun. Film ini tercipta setelah 7 tahun diagnosis primary progressive multiple sclerosis. When I Walk memeroleh sejumlah anugerah baik di tingkat Kanada maupun international. Di antaranya, Best Canadian Feature dalam Festival Film HotDocs 2013, Audience Award dalam Vancouver International Film Festival 2013, Grand Jury Prize dalam Los Angeles Asian Pacific Film Festival 2013 serta anugerah Emmy Award untuk kategori Berita dan Dokumenter tahun 2015.

Jason DaSilva sebelumnya aktif menciptakan sejumlah film. Namun pada tahun 2006, ia terjatuh. Sejak itulah Jason memutuskan menyusun film dokumenter kisah dirinya.

Film When I Walk berlanjut dalam sekuel film bertajuk When We Walk (2019) yang mengisahkan kehidupan Jason dengan sang putra tercinta dan istrinya dahulu yang juga sangat dicintai. Namun, kehidupan perkawinan mereka berakhir dengan perceraian.

“100 Metres” (2016). Memuat kisah nyata Ramon Arroyo, seorang atlit dari Spanyol yang terdiagnosis MS saat berumur 30 tahun.

100 Metres (2016) memuat kisah nyata Ramon Arroyo, seorang atlit dari Spanyol yang terdiagnosis MS saat berumur 30 tahun dan bertekad mengikuti lomba lari cepat 100 meter. Ramon terobsesi dengan tokoh Iron Man: berenang sejauh 3.8 kilometer, mengayuh sepeda sepanjang 180 kilometer, dan berlari maraton. Saat diagnosis, ia mendapat semacam hujatan dari kawan: bahwa ia tak akan mampu lari 100 meter dalam setahun. Sebuah pecutan bagi dirinya.

Film ini juga disebut memiliki genre drama, humor dan kemanusiaan. Ramon mendapatkan dukungan dari keluarga tercinta juga dari sang ayah mertua yang temani dirinya berlatih berjalan dan berlari. Sosok ayah mertua digambarkan berkarakter protagonis. Film ini mendapatkan anugerah Audience Award dalam festival film Cinespaña di Spanyol pada tahun 2017.

“Living Proof” (2017). Sebuah film dokumenter. Ditulis dan disutradarai oleh penyintas MS dari Kanada, mengisahkan perjuangan dirinya bersama sang ayah. Matt Embry terdiagnosis MS saat berusia 19 tahun dan berayahkan seorang ilmuwan bergelar PhD.

Living Proof (2017), film dokumenter ditulis dan disutradarai oleh penyintas MS dari Kanada, mengisahkan perjuangan dirinya bersama sang ayah. Matt Embry terdiagnosis MS saat berusia 19 tahun dan berayahkan seorang ilmuwan bergelar PhD. Sang ayah beralih minat keilmuwannya demi menemukan perawatan alami tanpa obat-obatan. Tentu saja, keinginan sang ayah agaknya bertentangan dengan dunia medis. Upaya ini dianggap sebagai alternatif melepaskan ketergantungan pada obat-obatan yang menguntungkan bisnis dunia farmasi.

Pesan moral dari film ini terkait dengan upaya menyembuhkan dengan cara menjaga pola makan dan tetap bergerak olah raga semampu yang bisa dilakukan. Tentang pilihan apakah kita bisa terlepas dari obat-obatan, sebaiknya dipikirkan secara bijak dan matang sebagai sebuah keputusan. Sejumlah penghargaan untuk film Living Proof di antaranya sebagai Film Dokumenter Terbaik pilihan penonton dan Independent Spirit Award dari pilihan para sutradara dalam Sedona International Film Festival.

Masih ada sejumlah film lainnya yang meningkat topik multipel sklerosis. Pesan yang tergambarkan semoga membuka kesadaran penonton akan tantangan yang dihadapi para penyintas MS. Selain itu, film-film dalam tulisan ini juga melibatkan para penyintas baik seperti dalam penokohan, proses kreatif dalam penulisan naskah, sutradara, hingga promosi. Perlu dicatat, usia para penyintas MS masuk dalam kategori usia produktif. Semangat meneruskan kehidupan adalah deretan kata kunci dari pesan yang tersirat, yang harus dicetak tebal dan digarisbawahi.

Referensi:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/When_I_Walk

http://whenwewalk.com/the-film/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/100_Meters

https://theweereview.com/review/100-meters/

https://www.seelivingproof.com/about

Baca Juga:

Catatan Kaki:   [ + ]

1. Penulis adalah penyintas MS, diagnosis RRMS (Relapsing Remitting Multiple Sclerosis) di Auckland Hospital, Selandia Baru,10 November 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.