PENELITIAN MENEMUKAN: GEJALA KEHAMILAN YANG MEMPERBURUK PASIEN MS

Penulis: Diogo Pinto

Sebuan penelitian retrospektif menunjukkan, bahwa kehamilan yang berlanjut pada persalinan sukses maupun keguguran, memperburuk gejala multipel sklerosis (MS).

Para peneliti menemukan terdapatnya efek yang sama dari kehamilan pada gangguan spektrum optica neuromyelitis (NMOSD). Dimana NMOSD tersebut adalah gangguan inflamasi sistem saraf pusat yang ditandai oleh demielinasi dan kerasukan serabut saraf, terutama pada mata serta sumsum tulang belakang.

Sebuah penelitian melaporan temuannya: “Pengaruh Kehamilan pada Gangguan Spektrum Optica Neuromyelitis dan Multipel Sclerosis.” Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Multiple Sclerosis and Related Disorders.

Para wanita usia subur adalah kelompok pasien dengan MS yang terbanyak. Penelitian sebelumnya menunjukan, bahwa frekuensi gejala yang memburuk (relaps/kekambuhan) pada pasien MS akan menurun selama mengalami kehamilan, terutama pada tri-semester pertama pasca kehamilan.

Pada penelitian kali ini, para peneliti dari Cina selanjutnya menyelidiki dampak kehamilan pada MS, terutama pada tingkat relaps (kekambuhan) dan kondisi awal penyakit (ketika pertama kali mengalami gejala penyakit).

Penelitian retrospektif ini menganalisis 170 wanita penyintas MS yang dirawat di Rumah Sakit Tiantan Beijing, Universitas Kedokteran Kota Beijing, China. Tingkat kekambuhan tahunan (ARR) ditentukan oleh jumlah kejadian yang berhubungan dengan kehamilan selama masa kehamilan (setiap tri-semester), atau dalam satu tahun setelah melahirkan/keguguran (untuk empat tri-semester). Peristiwa sebelum kehamilan juga dipertimbangkan.

Dari 170 wanita penyintas MS tersebut yang terdaftar dalam penelitian, terdapat 128 wanita (75,3%) mengalami kehamilan. Dari 170 wanita yang terdaftar tersebut dilanjutkan untuk tahap selanjutnya dan 105 yang mengalami keguguran.

Yang menarik, para peneliti menemukan, bahwa pada usia muda yang hamil (rata-rata 25,9 tahun), secara signifikan lebih rendah daripada gejala awal MS (rata-rata berusia 27,9 tahun). Hal ini menunjukan, bahwa kehamilan mendahului munculnya gejala penyakit.

Para peneliti telah menghitung, adanya 376 kali terjadinya relaps (kekambuhan) pada penyintas MS yang mengalami kehamilan yang terdapat dalam hidup mereka. Dalam pada itu 64 (17%) diantaranya mengalami relaps (kekambuhan terkait kehamilan. Diantara mereka, lima kasus terjadi selama kehamilan dan 59 dalm satu tahun setelah persalinan maupun keguguran.

ARR (tingkat kekambuhan tahunan), dimana ditentukan selama semester pertama dan keempat periode postpartum/postarbola (gejala depresi pasca melahirkan) secara signifikan lebih tinggi daripada selama kehamilan. Hal ini menunjukan, bahwa kehamilan, dan mungkin persalinan/keguguran, dapat berkontribusi dalam memperburuk gejala MS

Hal yang penting adalah tim peneliti tidak menemukan korelasi antara jumlah relaps (kekambuhan) dan keparahan MS.

Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukan, terdapatnya peningkatan gejala –dan memperburuk gejala– pada pasien MS yanhg mengalami kehamilan. Selain itu, persalinan dan keguguran memiliki dampak negatif pada perkembangan MS.

Hasil serupa terlihat pada pasien dengan NMOSD.

Perubahan kadar hormon dan fungsi sistem kekebalan selama kehamilan mungkin berada di balik temuan penelitian ini, tetapi para peneliti merekomendasikan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi teori ini.

“Secara keseluruhan, penelitian retrospektif yang besar ini menguatkan hasil penelitian lain yang menjelaskan tingkat relaps tinggi pada periode postpartum/postabortal pada NMOSD dan MS,” para peneliti menyimpulkan.

Disadur dari: multiplesclerosisnewstoday.com

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.