VITAMIN D DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI AUTOIMUNITAS

 

 

Penulis: dr. Stevent Sumantri Sp.PD 1)Dokter Stevent dilahirkan di Jakarta, 26 Februari 1982. Anak tertua dari empat bersaudara ini merupakan dokter spesialis penyakit dalam lulusan FKUI-RSCM, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan dokter umumnya di UNIKA Atma Jaya Jakarta. Sehari-hari dokter beranak dua ini menjalani profesinya sebagai staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan serta Rumah Sakit Umum Siloam, Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Internist muda yang satu ini mempunyai hobi meneliti, menulis, dan juga mengajar, sehingga di sela-sela kesibukannya masih juga membantu mengembangkan organisasi penelitian mahasiswa, website maupun aktif menulis serta menjadi editor di Tabloid MD.

 

Vitamin D mengacu pada serangkaian hormon steroid yang biasanya terkait dengan penyerapan dan kalsium serta fosfat. Vitamin D hadir dalam dua bentuk utama, vitamin D3 (cholecalciferol) dan vitamin D2 (ergocalciferol). Kedua bentuk vitamin D tersedia dalam jumlah terbatas pada sumber makanan dan sintesis vitamin D3 terkait matahari adalah sumber utama pada manusia. Setelah tertelan, vitamin D2 dan D3 pertama kali diproses hati dan kemudian menjalani hidroksilasi di ginjal untuk menjadi aktif. Bentuk aktif vitamin D3 dikenal dengan calcitriol, atau 1,25 (OH) 2D.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas ilmuwan telah mulai menemukan bahwa zat ini memainkan peran penting dalam mengatur aktivitas kekebalan tubuh. Reseptor vitamin D (VDR) ditemukan berada pada monosit darah perifer manusia dan sel B dan T aktif, dan penelitian lebih lanjut memastikan bahwa VDR terletak di semua garis sel besar T serta makrofag/monosit.

Penelitian-penelitian yang ada menunjukkan, bahwa vitamin D berhasil mengatur status kekebalan tubuh pasien secara signifikan. Hasil uji laboratorium menunjukkan, bahwa vitamin D menurunkan-mengatur sinyal pro-inflamasi yang mendukung profil Treg (sel darah putih yang menekan inflamasi). Pada pasien-pasien dengan autoimunitas, penelitian yang ada juga mendukung anggapan bahwa kekurangan vitamin D adalah faktor risiko terjadinya penyakit. Tingkat keparahan penyakit autoimunitas juga berhubungan terbalik dengan tingkat vitamin D.

 

Penyebab Kekurangan Vitamin D

Tantangan utama untuk mengatasi tingginya tingkat kekurangan vitamin D adalah bahwa tidak mudah mempertahankan kadar Vitamin D yang cukup baik melalui pola makan dan gaya hidup modern kita. Berikut adalah beberapa alasannya:

  • Tidak Cukup Paparan Matahari

    Dijuluki “vitamin sinar matahari”, sumber utama vitamin D kita adalah melalui paparan sinar matahari, yang memicu proses pada kulit Anda yang menghasilkan vitamin D. Namun, karena gaya hidup modern, kita menghabiskan lebih sedikit jam di luar.

  • Diet Kurang Vitamin D

    Tidak banyak makanan yang kaya akan vitamin D, dan makanan yang tidak biasa ditemukan dalam makanan modern yang khas. Makanan ini termasuk salmon, minyak ikan hati, daging organ seperti hati sapi, dan kuning telur.

  • Malabsorpsi lemak

    Vitamin D adalah vitamin yang larut dalam lemak, artinya usus Anda harus mampu menyerap lemak dalam makanan untuk menyerap vitamin D.

 

Suplementasi Vitamin D untuk autoimunitas

Tingkat vitamin D3 Anda harus sekitar 50-90 ng / mL dan dapat diperiksa oleh dokter yang merawat anda. Jika kadarnya di bawah kisaran yang disarankan, disarankan untuk suplementasi 2.000 IU harian suplemen Vitamin D3 / K2 berkualitas tinggi. Penting untuk meminum suplemen Vitamin D3 disertai Vitamin K2, atau pastikan anda mendapatkan Vitamin K melalui multivitamin, karena keduanya bekerja sama secara bersamaan. Tubuh Anda menggunakan Vitamin D untuk menyerap kalsium, namun Vitamin K akan memastikan bahwa kalsium berakhir di tulang dan bukan di pembuluh darah. Pastikan juga Anda memiliki kadar Vitamin E dan Vitamin A yang cukup, (yang bisa didapatkan dari multivitamin) karena mereka bekerja secara sinergis dengan Vitamin D juga.

Selain dari suplementasi, bagi kawan-kawan ODAI (orang dengan autoimun —red) yang tidak harus menghindari paparan sinar matahari berlebihan, paparan sinar matahari selama 30 menit dapat menghasilkan 10.000 unit Vitamin D. Paparan sinar matahari terbaik adalah selama 30 menit di bawah jam 8 pagi, atau selama 10 menit antara jam 10-14 siang.

Terlalu banyak vitamin D dapat menyebabkan tingkat kalsium darah yang abnormal, yang bias mengakibatkan mual, konstipasi, kebingungan, ritme jantung abnormal, dan bahkan batu ginjal. Pastikan memeriksakan kadar vitamin D total di dalam darah setiap 3-6 bulan sekali, terutama bila anda mendapatkan suplementasi vitamin D3 lebih dari 4000 unit setiap hari.

Baca Juga:

Catatan Kaki:   [ + ]

1. Dokter Stevent dilahirkan di Jakarta, 26 Februari 1982. Anak tertua dari empat bersaudara ini merupakan dokter spesialis penyakit dalam lulusan FKUI-RSCM, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan dokter umumnya di UNIKA Atma Jaya Jakarta. Sehari-hari dokter beranak dua ini menjalani profesinya sebagai staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan serta Rumah Sakit Umum Siloam, Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Internist muda yang satu ini mempunyai hobi meneliti, menulis, dan juga mengajar, sehingga di sela-sela kesibukannya masih juga membantu mengembangkan organisasi penelitian mahasiswa, website maupun aktif menulis serta menjadi editor di Tabloid MD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.