INTERAKSI DAN KESEIMBANGAN ANTARA OLAH RAGA SERTA VITAMIN D PADA PENYITAS AUTOIMUN

 

Narasumber: dr. Theo Audi Yanto, SpPD
Sumber: KULWAP (Kuliah WhatsApp) Grup WA LDHS Family-IAC
Senin, 6 Februari 2017; Jam 19.00-21.00 WIB1)I LOVE TO LEARN
LDHS (Lima Dasar Hidup Sehat) pilar no. 4: Terus Belajar Bergabung dengan Komunitas Pembelajar

Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit autoimun ini adalah penyakit yang unik. Penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada sistem kekebalan tubuh dimana kontrol dan regulasinya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Tubuh manusia berespon terhadap aksi dan reaksi, stimulasi dan tanggapan. Pengenalan terhadap zat zat yang ada dalam tubuh, baik yang berasal dari dalam tubuh maupun dari luar. Respon terhadap segala macam faktor yang dapat mempengaruhi tubuh kita. Respon yang tepat akan membuat tubuh kita beradaptasi dan membangun sistem pertahanan tubuh yang lebih kuat lain untuk menghadapi serangan dimasa yang akan datang. Salah satu zat atau hormon pengatur sistem dalam tubuh kita adalah vitamin D. Di dalam tubuh kita, selain membentuk struktur tulang, gigi dan metabolisme calsium, vitamin D berperanan dalam pengaturan sistem kekebalan tubuh. Kunci dari pengarutan ini adalah memahami interaksi dan menjaga tetap seimbang.

Olah Raga dan Penderita Autoimun

Mengenai olah raga pada penderita autoimun ini menjadi hal yang kontroversial dan kerap kali informasi membuat pusing penderita. Perdebatan antara apakah boleh atau tidak seorang penderita autoimun berolah raga? Jika boleh bagaimana olah raga yang tepat pada penderita autoimun?

Prinsipnya, olah raga memberikan stimulasi untuk tubuh dalam mengatur sistem-sistem dalam tubuh kita untuk dapat bekerja lebih optimal. Stimulasi yang diberikan harus pas. Olah raga, artinya mengolah raga diperlukan tehnik, cara dan “dosis” yang tepat supaya tujuan tercapai.

Kontroversinya, pada penderita autoimun terjadi aktivitas sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap zat, sel, maupun rangsangan. Interaksi antara sel peradangan terganggu, responnya menjadi terganggu. Lalu, jika sudah terganggu apakah rangsangan dari olah raga akan memberburuk atau malah akan membantu? contohnya kalau pada Rheumatoid Arthritis sendi sudah sakit, bukankah kalau dipakai olah raga maka akan bertambah nyeri dan merusak sendinya? Nah! yang terjadi radang adalah sendi, tapi fungsi sendi ini adalah untuk pergerakan tubuh, sendi ini ditopang oleh jaringan penyangga lainnya seperti otot dan ligamen. Ketika sendi ini nyeri, maka olah raga diperuntukna untuk mempertahankan fungsi jaringan yang lainnnya seperti otot dan ligamen. Otot yang kuat akan menyangga sendi, sehingga pergrakan dapat dibantu dengan kemampuan otot yang lebih baik sehingga fungsi otot tetap terjaga dan hendaya berkurang.

Walaupun masih belum banyak bukti ilmiah dengan desain yang baik, namun berbagai penelitian menunjukan bahwa olahraga memberikan manfaat pada penderita autoimun. Permasalahannya olah raga yang baik ini tidak terlalu dipahami oleh dokter maupun oleh pasein.

Olahraga yang berlebih dapat memperparah kondisi yang telah ada, dapat juga memicu timbulnya flare up. Lantas bagaimana olah raga yang baik?

Olah raga terbagi menjadi tiga:

  • Aerobik, dengan tujuan utama melatih sistem respirasi dan kardiovaskular, contohnya adalah jogging, bersepeda, berenang.
  • Latihan beban, tujuannya adalah melatih otot dan memperkuat tulang, contohnya adalah angkat beban. Hal ini perlu pembebanan yang benar dan tehnik yang benar. Macam bentuk latihannya bisa free weight, cable, atau elastic band.
  • Latihan core dan persendian, tujuannya menguakan otot penyangga tubuh, melatih fleksibilitas sendi dan keluwesan jaringan ikat, otot serta sendi.

Pendapat saya, ketiganya ini harus dilakukan dalam 1 minggu dan dilakukan rotasi. Sesi aerobik 2-3 kali, beban 2 kali dan fleksibilitas dilakukan 2 kali, 1-2 hari untuk istirahat

Waktu yang sebaiknya dilakukan kurang lebih 30 menit, dilakukan pada pagi dan sore hari. Iintensitas yang dilakukan ringan hingga sedang.

Contoh:

  • Senin: istirahat
  • Selasa: Cardio, jogging 30 menit
  • Rabu: Beban 2-3 kg untuk latihan squad, knee extension, sit up, dan pull down, 30 menit
  • Kamis: Yoga, 30 menit – 1 jam
  • Jumat: Cardio, Sepeda 30 menit
  • Sabtu: Beban untuk pengutan otot dada, lengan, dan paha
  • Minggu: Kombinasi, cardio 15 menit dengan latihan fleksibilas contohnya body balance 45 menit

Adapun olah raga ini diperlukan tehnik yang baik untuk mencegah terjadinya cidera. Kalau belum bisa minta bantuan dari tenaga ahli untuk membimbing dan mengajarinya. Selain itu lakukanlah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Apa yang diharapakan dirasakan dari olah raga?

  • Badan terasa lebih bugar
  • Badan terasa lebih hangat
  • Pikiran lebih fresh
  • bernafas lebih lega
  • tidak mudah letih
  • dirasa memiliki cadangan energi
  • asakan lebih ringan dan pergerakan lebih lincah

Kapan olahraga ini dirasakan berlebihan? jika anda mengalami hal ini

  • Setelah berolah raga keesokan harinya terasa letih, lemas
  • Setelah berolah raga dirasakan rasa nyeri yang berlebihan hingga timbul respon peradangan, bengkak, dan demam
  • Setelah berolah raga tidak dapat tidur

Vitamin D dan Penderita Autoimun

Belakangan ini mulai terkuak misteri mengenai peranan dari vitamin D di dalam berbagai mekanisme penyakit. Salah satu di antaranya adalah penjelasan mekanisme keterlibatan vitamin D di dalam penyakit autoimun. Ternyata vitamin D diperlukan dalam memberikan respon peradangan yang diaktivasi oleh sel-sel kekebalan tubuh agar dapat memberikan respon yang tepat. Oleh karena itu vitamin D dipercaya sebagai pengatur kekebalan tubuh terhadap stimulus baik dari luar maupun dari dalam tubuh. Berbagai bukti ditemukan, bahwa pada kadar vitamin D yang rendah berkaitan dengan berbagai penyakit autoimun. Sebagai pembanding kadar yang rendah juga dapat ditemukan pada penyakit metabolisme seperti diabetes mellitus dan penyakit radang sendi. Pada penyakit Sistemic Lupus Eritematosus (SLE), pasien dengan defisiensi vitamin D memiliki aktivitas penyakit yang lebih berat walaupun kadar vitamin D ini tidak dapat memprediksi terjadi flare up.

Salah satu konsep dari penyakit autoimun adalah ketidakseimbangan antara sel limfosit Th1 dan Th2, baik dari jumlah maupun responsnya. Vitamin D berperan dalam menjaga yin yang kedua sel tersebut. Selain itu, Vitamin D juga berepan pada sel pengenalan antigen, sehingga sel pengenal ini menjadi lebih cerdas dalam merespon stimulasi dan mengenali antigen, mana yang perlu direspon dan ditindak lanjuti mana yang perlu diabaikan.

Dalam pengobatan sering dipergunakan kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid dapat menurunkan pada vitamin D di dalam tubuh. Namun didalam pengobatan diperlukan intervensi unt menekan respon kekebalan tubuh yang berlebih dan memperbaiki regulasi dari sel-sel kekebalan tubuh. Penggunaan kortikosteroid menekan proliferasi dari sel-sel kekebalan tubuh dan responnya terhadap peradangan. Sedangkan vitamin D sendiri diperlukan dalam mengatur sel-sel Peradangan tersebut secara logis bahwa diperlukan kadar vitamin D dalam darah untuk dapat memberikan respons imunitas yang baik. Jadi vitamin D sendiri bukan semata mata obat yang definitif untuk pengobatan autoimun. Hingga saat ini dipercaya bahwa vitamin D dapat dipergunakan sebagai suplementasi yang penting untuk dapat meregulasi sistem kekebalan tubuh.

Teori mengenai kekurangan vitamin D di dalam tubuh menjadi dasar pemberian suplementasi vitamin D. Berbagai riset menunjukkan bahwa aktivitas penyakit berkurang setelah pemberian vitamin D. Kontroversi yang terjadi adalah mengenai pemberian dosis tinggi atau dosis sedang. Data terakhir menunjukkan bahwa pemberian dosis tinggi yakni lebih dari 2000 IU tidak memberiksan manfaat yang lebih baik ketimbang pemberian dosis 800-1000 IU. Malahan, sejumlah pasien yang mengkonsumsi dosis tinggi mengalami efek samping vitamin D yakni, seperti bekeringat terus menerus, sulit tidur, dan berat badan yang turun berlebihan, bahkan hingga terjadi pengapuran pada berbagai organ dan gangguan ginjal.

Hingga saat ini masih dipelajari berapa dosis yang optimalnya, dan senyawa vitamin D yang memiliki efek pengobatan yang optimal serta mengurangi efek sampingnya. Jadi sebaiknya suplementasi sekitar 800-1000 IU dirasakan sudah cukup dan kadar vitamin D itu perbaikannya tidak langsung cepat dapat diperoleh sehingga jangan kuatir kalau kadarnya belum juga bisa normal dalam 3 bulan. Kita tidak mengobati angka namun mengobati pasiennya. Terlebih penting melihat efek pengobatan dan pengurangan aktivitas penyakit autoimunnya sendiri.

 

Baca Juga:

Catatan Kaki:   [ + ]

1. I LOVE TO LEARN
LDHS (Lima Dasar Hidup Sehat) pilar no. 4: Terus Belajar Bergabung dengan Komunitas Pembelajar

2 thoughts on “INTERAKSI DAN KESEIMBANGAN ANTARA OLAH RAGA SERTA VITAMIN D PADA PENYITAS AUTOIMUN

  1. Kebetulan pada saat naik pesawat Garuda, saya menikmati film “100 Metres”, film Spanyol dgn sub titel bahasa Inggris, tentang seorang ayah yang divonis MS dan diperkirakan hanya mampu berjalan tidak lebih dari 100 meter.
    Namun dia berusaha membuktikan bahwa dia mampu lebih dari itu. dan akhirnya dengan semangat dan dukungan keluarga dia berlatih untuk dapat ikut event triathlon “IRON MAN”.

    Akan sangat bermanfaat dan inspiratif bila film ini (setelah diberi sub titel Bahasa Indonesia) dapat ditonton oleh para penderita MS di Indonesia.

    Mungkin bisa meminta bantuan / donasi Garuda atau Kedubes Spanyol untuk penyelenggaraannya.

    Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *